The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik “Suara dari Kegelapan”

The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik “Suara dari Kegelapan”
The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik "Suara dari Kegelapan"
The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik “Suara dari Kegelapan”

The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik “Suara dari Kegelapan” – Di sebuah desa terpencil bernama Lembah Tenang, terdapat sebuah jurang yang dikenal dengan nama Jurang Berbisik. Orang-orang desa menganggapnya sebagai tempat terkutuk, penuh dengan cerita-cerita mistis yang diwariskan dari generasi ke generasi. Jurang itu dikelilingi oleh hutan lebat, dan hanya sedikit orang yang berani mendekatinya, apalagi memasukinya. Tapi bagi seorang pemuda bernama Aditya, cerita-cerita itu hanyalah bualan semata.

Aditya, seorang pelukis muda dengan rasa ingin tahu yang besar, baru saja pindah ke desa itu bersama keluarganya. Ia tertarik dengan pemandangan alam di sekitarnya, terutama jurang yang disebut-sebut menyeramkan itu. Baginya, jurang tersebut adalah tantangan artistik yang harus ia abadikan di atas kanvas. Meski penduduk desa sudah memperingatkan bahaya yang mengintai, Aditya memutuskan untuk mengeksplorasi jurang itu sendiri.

Read More

“Aditya, jangan mendekati Jurang Berbisik! Banyak yang hilang di sana,” ujar Pak Rahmat, seorang tetua desa, dengan nada serius.

“Tenang saja, Pak. Saya hanya ingin melukis. Lagipula, saya tidak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu,” jawab Aditya santai.

Namun, meski penuh keberanian, Aditya tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang menyelimutinya setiap kali ia mendengar cerita-cerita tentang jurang itu. Mereka bilang, suara-suara dari dalam jurang dapat membuat orang kehilangan akal sehatnya. Tetapi ia tetap bersikeras. Dengan membawa perlengkapan melukisnya, ia berangkat ke jurang pada suatu pagi yang cerah.

Pertemuan Pertama

Saat tiba di tepi jurang, Aditya merasa kagum sekaligus merinding. Jurang itu begitu dalam, dan kabut tebal menyelimuti dasarnya. Angin bertiup perlahan, membawa suara lirih yang terdengar seperti bisikan.

See also  Blades of the Forgotten Realm: Bab 10

“Hanya angin,” pikirnya sambil menggelengkan kepala. Ia segera membuka peralatan melukisnya dan mulai memoleskan cat di atas kanvas. Namun, semakin lama ia bekerja, semakin jelas suara-suara itu terdengar.

“Aditya… Aditya…”

Ia terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. “Siapa di sana?” teriaknya, tapi tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti. Meski merasa takut, ia memutuskan untuk melanjutkan lukisannya. Namun, kali ini, setiap sapuan kuasnya terasa berat, seolah-olah ada energi yang mengawasi setiap gerakannya.

Saat senja tiba, Aditya merasa pekerjaannya hampir selesai. Namun, sebelum ia sempat membereskan peralatan, ia mendengar suara langkah kaki dari belakangnya. Ia berbalik dengan cepat, tetapi tidak ada siapa pun di sana.

“Ah, mungkin hanya hewan,” gumamnya, berusaha menenangkan diri. Tetapi, saat ia berbalik kembali ke kanvasnya, ia melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya meremang. Lukisan yang tadinya menggambarkan pemandangan jurang berubah menjadi sesuatu yang menyeramkan. Di atas kanvas itu, terlihat wajah-wajah pucat dengan mata kosong yang memandang langsung ke arahnya.

Aditya panik. Ia merobek kanvas itu dan berlari meninggalkan jurang. Namun, suara bisikan itu terus mengikutinya, semakin keras dan jelas.

Rahasia Gelap

The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik "Suara dari Kegelapan"

Setelah kejadian itu, Aditya jatuh sakit. Ia mengalami demam tinggi dan sering mengigau tentang suara-suara yang memanggil namanya. Keluarganya, yang khawatir dengan kondisinya, memanggil dukun desa untuk membantu. Dukun itu, seorang wanita tua bernama Nyai Saras, segera mengetahui bahwa Aditya telah melanggar batas yang seharusnya tidak dilanggar.

“Kau membawa pulang sesuatu dari jurang itu, Nak. Itu bukan benda, tapi energi gelap yang ingin bersamamu,” ujar Nyai Saras sambil memegang tangan Aditya yang gemetar.

“Apa yang harus saya lakukan, Nyai?” tanya Aditya dengan suara lemah.

See also  Blades of the Forgotten Realm: Bab 11

Nyai Saras menghela napas panjang. “Kau harus kembali ke jurang itu dan mengembalikan apa yang telah kau ambil. Tapi ingat, jangan biarkan rasa takut menguasaimu. Suara-suara itu hanya akan menjadi kuat jika kau membiarkannya masuk ke dalam hatimu.”

Meski ketakutan, Aditya tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain. Bersama Nyai Saras, ia kembali ke jurang pada malam purnama. Saat mereka tiba di sana, suasana terasa lebih mencekam. Kabut yang tebal dan dingin menyelimuti mereka, sementara bisikan-bisikan terdengar semakin jelas.

Perjalanan Ke Dasar Jurang

Nyai Saras memimpin jalan, membawa lilin dan mantra-mantra untuk melindungi mereka. Mereka menuruni jurang dengan hati-hati, melewati akar-akar pohon yang menjuntai dan batu-batu licin. Semakin dalam mereka turun, semakin aneh suasananya. Suara bisikan berubah menjadi jeritan, dan Aditya merasa seperti ada banyak mata yang mengawasi mereka.

“Jangan berhenti, Nak. Kita hampir sampai,” ujar Nyai Saras.

Setelah perjalanan yang terasa seperti berjam-jam, mereka akhirnya tiba di dasar jurang. Di sana, mereka menemukan sebuah altar batu tua yang dipenuhi ukiran-ukiran aneh. Di atas altar itu terdapat kanvas yang telah dirobek Aditya. Namun, kanvas itu telah berubah. Kini, gambar di atasnya adalah bayangan dirinya sendiri, tetapi dengan mata hitam pekat dan senyuman menyeramkan.

“Itu adalah cermin jiwamu yang telah ternoda. Kau harus menghancurkannya dengan hatimu yang bersih,” kata Nyai Saras sambil menyerahkan sebuah belati kecil kepada Aditya.

Aditya ragu sejenak, tetapi ia mengumpulkan keberaniannya. Ia mengangkat belati itu dan menikam kanvas tersebut. Saat itu juga, jeritan keras menggema di seluruh jurang, dan angin kencang berputar di sekitar mereka. Nyai Saras melantunkan mantra-mantra dengan suara lantang, sementara Aditya berusaha menjaga keseimbangannya.

See also  Blades of the Forgotten Realm: Bab 3

The Whispering Abyss: Misteri Jurang Berbisik "Suara dari Kegelapan"

Akhir Dari Kutukan

Setelah beberapa saat, angin berhenti dan suasana kembali tenang. Kanvas itu hancur menjadi abu, dan bisikan-bisikan pun lenyap. Aditya merasa beban berat yang selama ini menindihnya akhirnya terangkat. Nyai Saras tersenyum kecil.

“Kau telah membebaskan dirimu, dan juga jurang ini. Namun, ingatlah, jangan pernah kembali ke sini lagi.”

Aditya mengangguk dengan penuh rasa syukur. Mereka kembali ke desa dengan selamat, dan sejak saat itu, jurang tersebut tidak lagi mengeluarkan suara-suara misterius. Meski begitu, Aditya tidak pernah melupakan pengalaman itu. Ia berhenti melukis untuk sementara waktu, tetapi ia menemukan kedamaian dalam dirinya yang selama ini hilang.

Jurang Berbisik kini hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi bagi Aditya, itu adalah pengingat bahwa rasa ingin tahu yang berlebihan bisa membawa bahaya yang tidak terduga.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *